aRek WONOSALAM: RENUNGAN
arek WONOSALAM
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2011

apa yang akan ditanyakan tuhan

 Tuhan tidak akan bertanya jenis mobil yang kau kendarai, tapi akan bertanya berapa banyak orang miskin yang kau beri tumpangan.

 Tuhan tidak akan bertanya berapa m2 luas rumahmu, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang kau muliakan di dalamnya.

 Tuhan tidak akan bertanya tentang pakaian-pakaian indah yg ada dalam lemarimu, tapi akan bertanya berapa banyak pakaian –pakaian itu telah membantu orang yg membutuhkan.

 Tuhan tidak akan bertanya apa jabatanmu, tapi akan bertanya apakah kau melakukan pekerjaanmu dengan baik sesuai dgn kemampuanmu.

 Tuhan tidak akan bertanya apa yang kau lakukan untuk dirimu sendiri, tapi akan bertanya apa yg kau lakukan untuk sesama.

 Tuhan tidak akan bertanya tentang banyaknya teman yg kau miliki, tapi akan bertanya tentang berapa banyak org yg  menganggapmu teman sejati.

 Tuhan tidak akan bertanya tentang apa yg kau lakukan untuk melindungi hak2mu, tapi akan bertanya tentang apa yg kau lakukan untuk melindungi hak2 org lain.

 Tuhan tidak akan bertanyadi lingkungan mana kau tinggal ,tapi akan bertanya tentang perlakuanmu terhadap tetangga di lingkunganmu.

 Tuhan tidak akan bertanyatentang warna kulitmu, tapi akan bertanya tentang budi pekertimu.

Senin, 11 Juli 2011

MAAFKAN BILA AKU MENGELUH [WHEN I WHINE]

 
            Hari ini, di sebuah bus, kulihat seorang gadis berambut pirang. Aku ingin secantik dia. Tiba-tiba ia bangkit dan melangkah gontai. Ia berkaki satu, berjalan pincang, memakai tongkat kayu. Namun ketika lewat, ia tersenyum.
 
            Oh Tuhan, maafkan aku bila selalu mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.
 
 
            Aku berhenti untuk membeli gula-gula. Anak laki-laki penjualnya sangat menyenangkan. Aku berbicara kepadanya, ia pun menyambut gembira. Seandainya aku terlambat, aku takkan menyesal. Ketika aku hendak pergi, ia berkata, “Terima kasih, Engkau telah begitu baik kepadaku. Menyenangkan sekali bicara dengan orang sepertimu. Ketahuilah,” katanya, “sesungguhnya aku buta.”
 
            Oh Tuhan, maafkan aku bila selalu mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
 
 
Lalu, ketika sedang menyusuri jalan, aku melihat seorang anak bermata biru. Ia berdiri melihat anak-anak lain bermain. Ia tidak tahu apa yang bias ia lakukan. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, “Mengapa kau tidak bermain dengan yang lain, Nak?” Ia menatap ke muka, tidak menjawab. Kemudian aku pun sadar, ternyata ia tuli.
 
            Oh Tuhan, maafkan aku bila selalu mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.
 
 
Dengan dua kaki yang dapat membawaku kemana saja, dengan dua mata yang dapat memandang cahaya mentari ketika tebenam, dengan dua telinga yang dapat mendengar apa saja yang ingin kuketahui, oh … Tuhan, maafkan bila aku selalu mengeluh.

Kehidupan di Desa (Poor Folks)

Suatu hari seorang ayah dari keluarga yang sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa hari di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya di desa, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana munurutmu perjalanan kita ini?”
“Hebat, Ayah.” Kata anaknya
“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”
“Ya.”
“Lalu pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan itu?” Tanya ayahnya cengan bangga
“Aku sadar bahwa kita punya dua anjing sedang mereka punya tempat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai ke halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melayani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang melindungi mereka.”
Sampai di sini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan, “Ayah terima kasih engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”
***

Kita sering lupa pada segala yang kita miliki dan memusatkan perhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki.
Benda-benda yang tidak bernilai di mata kita bisa jadi merupakan barang berharga di mata orang lain. Semua itu tergantung pada perspektif seseorang. Bayangkan apa yang terjadi bila kita semua mensyukuri karunia yang telah kita peroleh dari pada merasa gelisah karena menghendaki yang banyak.Nikmatilah segala yang telah kau miliki, perhatian kekayaan (nilai) yang terkandung di dalamnya.

Tersenyum Pada Nasib



Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku masih kuliah, aku bekerja di museum National History milik universitasku. Suatu hari ketika sedang bekerja sebagai kasir di toko barang-barang cendera mata, aku melihat sepasang suami istri yang telah lanjut usia bersama seorang gadis kecil di kursi roda. Kuamati gadis itu, ia seakan duduk dengan posisi aneh, baru kemudian kusadari bahwa gadis itu ternyata tidak memiliki kaki dan tangan, hanya kepala, leher dan tubuh. Ia mengenakan pakaian putih kecil bertitik-titik merah. Kedua orang tua itu mendorongnya ke arahku.

Aku melihat mesin hitung, lalu menoleh ke arah gadis kecil dan mengedipkan mata kepadanya. Ketika mengambil uang dari kakeknya, aku sekali lagi melirik ke gadis itu. Tak disangka ia tersenyum sangat manis kepadaku. Senyuman paling lebar yang pernah kulihat. Tiba-tiba saja cacatnya hilang dan yang kulihat hanyalah seorang gadis cantik yang senyumnya melumerkan diriku. Sebuah senyuman yang saat itu juga memberiku pengertian baru tentang kehidupan ini. Ia menarikku, mahasiswi miskin yang sengsara ini, ke dalam dunianya: dunia yang penuh senyum, cinta dan kehangatan.

Itu sepuluh tahun yang lalu dan sekarang aku telah menjadi seorang pengusaha sukses. Namun, kapanpun merasa sedih dan memikirkan kesulitan-kesulitan di dunia, aku segera teringat gadis kecil ini, dan pelajaran yang mengagumkan yang telah diberikannya kepadaku.

Jumat, 08 Juli 2011

Siapa Tahu Nasib Seseorang


Konon dahulu ada petani mempunyai seorang anak dan seekor kuda.
Suatu hari, kuda petani itu melarikan diri. Para tetangganya
menghibur agar si petani tidak bersedih. mereka berkata,
"Alangkah malang nasibmu, kudamu melarikan diri!"

Si petani menjawab, "Siapa dapat mengetahui nasib seseorang; malang atau mujur."

"Tentu saja itu adalah nasibmu yang malang," kata para tetangganya.

Seminggu kemudian, kuda petani itu pulang diikuti 20 ekor kuda liar.
Para tetangganyaa datang untuk memberi selamat,
"Alangkah mujurnya nasibmu, kuda itu telah pulang, bahkan membawa 20 kuda lain."

Si petani berkata, "Siapa dapat mengetahui nasib seseorang; malang atau mujur."

Hari berikutnya, anak petani menunggang salah satu kuda liar tersebut.
Ia terjatuh dari kuda dan patah kakinya.

Para tetangganya datang menghibur. mereka berkata,
"Alangkah malang nasibmu."

Petani itu berkata, "siapa dapat mengetahui nasib seseorang; malang atau mujur."

Sebagian dari tetangga mulai jengkel lalu mereka berkata,
"Tentu saja itu suatu kemalangan, dasar orang tua bodoh!"

Seminggu kemudian, sepasukan tentara datang ke desa itu,
mendaftar semua pemuda yang layak untuk diterjunkan dalam medan perang yang letaknya
sangat jauh dari desa itu. Anak si petani yang patah kakinya tidak didaftar.
para tetangga datang untuk mengucapkan selamat.
"Alangkah mujurnya nasib anakmu, ia tidak masuk dalam daftar wajib militer."

Si petani berkata, "Siapa dapat mengetahui nasib seseorang?!"

---------------------------KITA menghabiskan umur memikirkan semuanya: "ini baik....itu buruk...." sebenarnya perbuatan itu sia-sia. kita memberi label bahwa suatu kejadian adalah malapeteaka padahal kita kita hanya melihat satu persen dari kejadian seutuhnya.'

Rahasia Kerja Tuhan II

Seorang anak kecil mengadu kepada neneknya tentang kejadian
tidak menyenangkan yang ia alami, masalah keluarga,kesehatan
dan lain-lain sementara neneknya membuat kue.

Neneknya lalu bertanya kepada cucunya apakah ia mau snack,
tentu saja cucunya mengiyakan.

"Mau minum minyak ini?" tanya neneknya.

"Hiii...," kata si anak

"Bagaimana kalau telur mentah? Mau?"

"Jijik, Nek."

"Mungkin kau mau tepung? Atau soda kue?"

"Nek, semua itu menjijikan!"

Neneknya lalu menjelaskan, "Semua itu tampak tidak enak,
tapi bila dicampur dengan cara yang benar akan menjadi kue
yang sangat lezat. Begitu pula cara kerja Tuhan.
Sering kali kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan kita
melewati masa-masa yang tidak menyenangkan dan sulit.
Tapi DIA tahu bahwa apabila semua kejadian itu diletakkan
menurut susunan-Nya pasti hasilnya akan baik.
Kita harus menaruh kepercayaan kepada-Nya, bahwa semua
ketidaknyamanan itu akhirnya akan menjadi sesuatu yang sangat baik.
Tuhan sangat mencintaimu, DIA mengirimkan kepadamu bunga setiap musim semi; sinar matahari setiap pagi. Kapanpun kau berbicara kepada-Nya, DIA selalu mendengarkan. DIA dapat tinggal dimanapun di jagad ini, tapi DIA meilih tinggal dihatimu.

Rabu, 06 Juli 2011

KELUARGA

Aku menabrak seseorang yang tidak kukenal yang sedang lewat. Aku berkata, "Oh, maafkan aku."
Ia berkata, "Maafkan juga aku. Aku tidak melihatmu."

Kami saling bersikap sangat sopan; aku dan orang yang tidak kukenal itu.
Kemudian kami saling mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan perjalanan.

Peristiwa di atas bila terjadi dirumah akan menjadi sangat berbeda. Renungkan bagaimana
kita memperlakukan orang-orang yang kita cintai; tua maupun muda!!

Masih di hari yang sama, malam itu aku memasak makan malam. Anak perempuanku diam-diam
berdiri disebelahku. Ketika berbalik, aku hampir saja menabraknya.

"Menyingkirlah kau," bentakku sambil mengeryitkan alis.

Ia pun pergi dengan membawa luka di hati. Aku tidak sadar betapa aku
telah berkata sangat kasar kepadanya.

Malam itu ketika aku berbaring ditempat tidur, terdengar suara lembut Tuhan,
"Ketika berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, kau bersikap sangat santun.
Tapi terhadap anakmu sendiri, kau berlaku kejam. Coba lihatlah di lantai dapur,
kau akan mendapati beberapa kuntum bunga tergeletak dekat pintu. itu adalah bunga
yang akan diberikan kepadamu. Anakmu memetiknya sendiri; merah muda, kuning dan biru.
Ia sengaja berdiri diam-diam di sebelahmu untuk memberikan kejutan. Kau bahkan
tidak melihat matanya basah berkaca-kaca."

Saat itu aku merasa sangat kerdil, dan air mataku mulai berjatuhan. Perlahan-lahan
aku pergi kekamarnya, lalu berlutut di dekat tempat tidurnya.

"Bangun, anak kecil, bangunlah." kataku lembut.
"Apakah bunga-bunga ini kau petik untukku?"

Ia tersenyum, "Aku melihatnya diluar di dekat pohon lalu memetiknya karena
bunga-bunga itu cantik sepertimu. Aku tahu kau pasti menyukainya, terutama yang biru."

"Anakku, aku menyesal atas sikapku tadi. Tidak seharusnya aku berteriak
kepadamu seperti itu," kataku.

"Tidak apa-apa mama. Aku tetap mencintaimua."

"Anakku, Aku juga mencintaimua. Aku memang suka bunga-bunga itu, terutama yang biru."

Sadarkah kau, apabila kita mati esok, perusahaan tempat kita bekerja dapat dengan mudah
mencari pengganti kita dalam waktu beberapa hari saja. namun, eluarga yang akan kita tinggalkan
akan merasa kehilangan sepanjang hidup mereka. Meski demikian, kitalebih banyak mencurahkan
segenap yang ada pada kita untuk pekerjaan, bukan untuk keluarga.
Sungguh investasi yang tidak bijaksana.

Pesan apa yang dapat kau tangkap dibalik cerita ini? Tahukan kau kepanjangan dari kata family (keluarga)? FAMILY = [F]ather [A]nd [M]other, [I][L]ove [Y]ou! (Ayah dan Ibu, aku cinta kepadamu!)

KEBERSAMAAN

Seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Ayah, berapa penghasilanmu 1 jam?” Mendengar pertanyaan itu sang ayah marah lalu berkata dengan kasar, “Jangan ganggu aku!”


Sang ayah baru saja pulang kerja dalam keadaan capai dan wajah muram. Namun anaknya bersikeras dengan pertanyaannya “Ayah berapa penghasilanmu, tolong jawab!”


Dengan suara yang tidak menyenangkan dia menjawab, “Delapan dolar satu jam.”


“Ayah, boleh tidak aku pinjam 4 dolar?”

”Aku sudah berkata, jangan ganggu aku! Diam dan pergilah ke kamarmu!” bentak ayahnya.

Memasuki saat tidur malam, sang ayah sudah merasa agak tenang. Ia menyesali perlakuannya tadi, lalu pergi ke loteng menuju kamar anaknya.


”Kau sudah tidur, Nak?” tanya ayahnya.


Ia lalu memberi anaknya 4 dolar yang tadi hendak dipinjamnya.  Anaknya mengucapkan terimakasih, lalu ia menyisipkan tangannya ke bawah bantal dan mengeluarkan dari bawahnya uang 4 dolar yang tampak kusut. 



Mari kita ambil suatu pelajaran moral dari kisah tersebut baik kepada Anda yang telah menjadi orangtua maupun Anda calon orangtua nantinya. Semoga postingan ini bermanfaat.

MANGKUK KAYU

Seorang lelaki tua tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu dan cucunya yang baru berusia 4 tahun. tangan lelaki tua itu gemeteran, matanya kabur dan jalannya tertatih-tatih.

 keluarga ini selalu makan bersama di meja, namun tangan orang tua mereka yang gemeteran membuat makan menjadi pekerjaan yang sulit baginya. pasti menggelinding dari sendoknya jatuh ke lantai. bila ia meraih gelas, susu tumpah membasahi taplak meja. anak dan menantunya menjadi jengkel karena kotoran yang diakibatkannya.

"kita harus berbuat sesuatu terhadap ayah," kata si anak."aku sudah tidak sabar lagi melihat tumpahan susu, berisiknya kunyahan dan makanan yang jatuh kelantai."

kemudian suami isteri itu menyediakan meja kecil di pojok rimah. di meja ini ayah mereka makan seorang diri. karena sang ayah juga memecahkan satu atau sua piring, maka makanan di meja kecil ini disajikan dalam mangkuk yang terbuat dari kayu.

bila keluarga ini melihat sekilas ke arah lelaki tua itu, terkadang tampak matanya berkaca-kaca selagi ia duduk sendiri. apabila sang kakek menjatuhkan garpu atau menumpahkan makanan, mereka menegurnya dengan keras, sang cucu yang berumur 4 tahun diam-diam menyaksikan semua kejadian itu.

suatu petang, sebelum makan malam sang ayah menyksikan anaknya bermain-main dengan potongan-potongan kayu di lantai. denagan manis ia bertanya, "lagi bikin apa, Nak?"

sang anak dengan manja menjawab, "oh....aku sedang membuat mangkuk kecil untuk makan papa dan mama bila aku sudah besar nanti."

anak unur 4 tahu ini tersenyum manis lalu kembali bekerja.

kata-kata si anak menampar kedua orang tuanya sehingga mereka tak kuasa berkata-kata.air mata mulai mengalir di pipi mereka.meskipun keduanya tidak berbicara,tapi mereka tahuu apa yang harus segera dilakukan.

malam itu juga, sang suami memegang dengan lembut tangan ayahnya lalu membimbingnya ke meja makan keluarga. sejak hari itu, lelaki tua itu makan lagi bersama keluarganya. dan suami istri itu tidak pernah lagi memperdulikan garpu yang jatuh, susu yang tumpah san taplak meja yang kotor.

SILAHKAN ANDA BERKOMENTAR

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons